Minggu, 22 Juli 2012

Manusia: Bebas dalam Keterbatasan dan Terbatas dalam Kebebasan (Sebuah Kontemplasi Kolektif )




Siapakah manusia paling bebas di dunia, 
apakah  seorang  Filosof, penguasa, politikus, seniman, atau petani?

Pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang bebas(free) sekaligus terbatas(limited). Terdapat ungkapan klasik, bahwa faktor pembatas terbesar bagi manusia adalah dirinya sendiri karena manusia adalah ciptaan. Manusia terlahir sebagai “manusia”, yang dikenai sifat-sifatnya sebagai makhluk. Setiap makhluk diberi hak untuk tinggal di dunia sampai waktu yang ditetapkan, dan suatu saat ijin tinggalnya akan dicabut manakala syarat-syaratnya telah dipenuhi. Bidang kajian sejarah, antropologi, arkeologi, dan paleontologi menunjukkan hal tersebut. Sekarang kita bisa melihat jejak peninggalan Fir’aun, Yunani Kuno, Inca, Majapahit, Buton atau yang lainnya. Dalam sejarah terkandung kebebasan sekaligus keterbatasan, terdapat kebangkitan dan kehancuran.
Setiap orang mempunyai hak untuk berbuat, berbicara dan berpikir apa saja, terserah pada hasrat dan kemauannya. Tetapi terdapat “kode etik” tertentu yang mengatur kebebasan tersebut. Kode etik itu bisa dilaksanakan secara suka rela atau terpaksa. Kode etik adalah semacam aturan main untuk menghindari kontroversi dan menjadi sebuah ruh kemutlakan manusiawi untuk bergerak. Hal ini dibenarkan oleh semua agama.
Etika atau kode etik itu hanya berlaku bagi yang sepakat saja. Tetapi “tidak” berlaku untuk yang tidak sepakat. Itu kata pemikir Posmodern. Saat ini yang katanya telah memasuki era posmodern (pasca modern, red), kebebasan manusia menjadi sangat diagung-agungkan. Ke-aku-an seseorang berhadapan dengan ke-aku-an yang lain. Dan yang ramai dipermukaan adalah subjektifitas. Pemikir Posmodern Barat seperti Derrida beranggapan bahwa kebenaran mutlak telah mati, yang ada hanyalah kebenaran subjektif tiap-tiap individu. Bahkan etika, bahasa dan moral dalam agama hanya berlaku bagi mereka yang sepakat dengan aturan itu. Konsekuensi logisnya adalah Semua hal dipandang relatif dan subjektif, tergantung kepada individu masing-masing. Hal ini dibenarkan oleh Nietzche bahwa kebenaran adalah perspektif. Artinya semua tergantung perspektif masing-masing. Dengan sangat bebasnya Derrida dan Nietzche berujar. Namun perlu direnungi, apakah Kebebasannya tak terbatas? Tentu saja “terbatas”. Yaitu dibatasi oleh ukuran kebenarannya (Mutlak) sendiri. Barangkali Derrida tak sadar akan hal ini.
Saya bukan menghalangi kebebasan berpikir seorang Derrida. Namun hendak menunjukkan bahwa kebebasan manusia itu pasti terbatas, yaitu dibatasi oleh yang dianggapnya “Mutlak”, termasuk Pemikir Posmodern yang bebas seperti Derrida yang alih-alih berpikir bebas ‘melampaui batas berpikir’ kebanyakan manusia, ternyata kebebasannya juga terbatasi
Kalangan filosof (pemikir)  seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Mulla Sadra, Ali Syari’ati dan lainnya pun memiliki kebebasan sekaligus keterbatasan. Namun bedanya, mereka menyadari sepenuhnya akan ihwal ini. Kesadaran diri tersebut membuat mereka tak ingin melampaui batas-batas yang syariatkan sang Pembatas (Tuhan).  
Di dunia memang tidak ada kekekalan. Jika anda perhatikan bahwa peta dunia zaman dulu sampai sekarang dengan batas-batas fiktifnya yang menunjukkan pembagian negara kerap kali berubah. Garis batas baru terbentuk di bekas wilayah Uni Soviet, Cekoslowakia dan Pulau Timor. Sedangkan garis batas yang hilang terjadi di Jerman. Sebagian masyarakat dunia menuju kebebasan dan keterbatasan. Bebas untuk berdaulat dan memerintah sendiri, dan makin terbatas untuk wilayah domisilinya.
Jenis kebebasan menyangkut kebebasan individu dan kelompok. Sebelum manusia “dimasyarakatkan”, mereka bebas sebagai kelompok-kelompok. Manusia dimasyarakatkan, dan masyarakat “dinegarakan” berdasarkan beberapa faktor, antar lain batas geografis, etnis, sejarah, dan ideologi.

Melampaui Batas Etik

Dalam “Buku Dunia Yang Dilipat” Yasraf Amir Pilliang, menjelaskan Perkembangan teknologi digital telah membawa fantasi(kebebasan hasrat, red) manusia menembus batas, menciptakan ruang-ruang tiga dimensi berikut obyek-obyek di dalamnya, sampai pada tahap di mana realitas visual telah dilampaui dengan manipulasi pencitraan visual( seperti internet), sehingga seolah manusia melangkah dari dunia nyata menuju dunia fantasi, dunia maya yang tampak nyata. Apakah itu artinya manusia bebas berfantasi tanpa batas hingga keterbatasan itu tiada? Tidak. Toh kenyataannya teknologi punya batasan-batasan etik(aturan) yang ketika dilanggar maka akan membawa dampak negatif. Pada saat teknologi memuaskan hasrat/nafsu manusia dengan melampaui batas-batas etik, memberikan pesona ekstasi, maka nilai-nilai moral seakan rontok satu per satu. Sesungguhnya AlQur’an secara tegas telah menyatakan dalam Surah  Al-Maidah(5:87) 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”
Lantas kita berpikir ekstrim, bagaimana jika didunia dengan hampir tujuh penduduknya, hanya ada satu negara, satu ideologi dan satu pemerintahan. Sistem informasi dipusatkan dari satu sumber. Penduduk diberi kebebebasan penuh pergi kemana saja, tak usah menggunakan paspor dan visa. Tidak ada lagi kedutaan-kedutaan besar dan perwakilan negara asing lainnya. Angkatan bersenjata dan semua yang berbau militer dihapus saja. Sedangkan kepala pemerintahan dipilih langsung oleh semua warga dunia yang telah berhak memilih. Karena ideologi hanya satu, misalnya ideologi kebebasan, jadi pemilihan kepala negara hanya berasal dari satu partai saja ! Jika hal tersebut benar-benar terjadi, bagaimana dampaknya terhadap peradaban manusia, apakah akan benar-benar mendapatkan kebebasan atau kehancuran ?
Manusia senantiasa berkelompok, antar kelompok bisa terjadi kontroversi, bahkan antar individu. Manusia akan membuat kerusakan di muka bumi, dan hal itu cukup terbukti, misalnya dengan perbandingan antara pengrusakan dan pembangunan yang sangat timpang.
Untuk mempertahankan stabilitas suatu negara, maka ideologi menjadi semacam tulang punggung. Ideologi itu harus di pegang oleh penduduk serta harus dilestarikan dan dikembangkan, yakni dengan metoda-metoda yang informatif dan persuasif. Ideologi itu dipagari dengan berbagai cara, supaya tidak dicemari ideologi asing yang tidak sesuai. Dengan berbagai macam ideologi, populasi manusia dimuka bumi dikotak-kotakan. Sedangkan didalam kotak terdapat kebebasan sekaligus keterbatasan.
Pemikiran ekstrim lainnya, yakni bagaimana jika setiap individu memiliki ideologi masing-masing. Seorang Pelawak seperti Tukul, Sule, Azis, Parto dan sebagainya memiliki ideologi tersendiri, sehingga dikenal adanya ideologi Tukulisme, Suleisme, dan sebagainya. Dengan adanya ideologi perorangan, maka kebebasan individu akan makin terjamin, sekaligus setiap individu akan makin terbatas. Sehingga batas-batas muka bumi tidak hanya sekitar 200-an sesuai dengan jumlah negara-negara yang ada, tetapi hampir tujuh lebih, yakni sebanyak manusia yang ada di muka bumi.

Kesadaran Diri

Ali Syari’ati dalam bukunya Culture and Ideology menerangkan, bahwa ideologi adalah pembawaan tertentu yang bukan ilmu, teknologi, seni, cita rasa keagamaan maupun sosial politik. Ia merupakan kesadaran diri yang istimewa, yang lebih suka menamainya dengan “kesadaran diri manusia”. Kesadaran diri ini selalu bersinar bagai kilat, sebentar menyinari sekeliling dan segera menghilang, itulah ciri jenis kesadaran diri dalam sejarah.
Lantas apakah setiap manusia dianugrahi “kesadaran diri” tersebut? Kesadaran diri meliputi “persepsi” atau “sudut pandang”, atau “temuan individu”. Jadi setiap individu memiliki persepsi tersendiri tentang kehidupannya, hanya masalahnya mampukah ia mengungkapkan temuan atau pandangannya itu dalam kerangka yang logis, sehingga mampu “dikomunikasikan” pada individu lainnya. Jika persepsi atau temuannya itu mampu membentuk opini dan sikap individu lainnya maka terjadilah “penularan ideologi”. Demikian pula ketika Lenin mengungkapkan persepsinya  yang dikenal dengan “marxisme”,atau Soekarno dengan ideologi “marhaenisme”.

Manusia memiliki kebebasan dan keterbatasan. Hanya sedikit saja individu yang mampu mendayagunakan kebebasannya dan meredam keterbatasannya secara proporsional. Beberapa tokoh yang menonjol seperti Ahmadinejad (presiden Iran), Ali Syari’ati (tokoh Pembela kaum Mustadz’afin Iran) dan Hasan Hanafi (tokoh Oksidentalisme dari Mesir). Mereka adalah contoh “orang yang bebas dalam keterbatasan, dan terbatas dalam kebebasan” kecuali Allah SWT.

Penulis

La Ode Muhamad Fiil Mudawat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar