Senin, 17 Desember 2012

Berfilsafat Eksistensialisme (Bhima Yudhiastira)


Apa yang dimaksud eksistensialisme? Pertanyaan itulah yang hendak kita jawab dan jabarkan secara mendetail. Eksistensialisme merupakan sebuah aliran filsafat yang mulai muncul pada tahun 1840an, dengan tokoh utamanya Soren Kieergard (1813-1855) seorang teolog dan sosiolog Denmark. Dalam pokok ajaran eksistensialisme Kieergard menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek, tanpa pemisahan. Karena ketika kita memisahkan subjek dengan objek maka yang terjadi adalah penghancuran karakter dan penghambaan terhadap cara orang lain memandang manusia sebagai sebuah objek murni. Kieergard, seperti para Eksistensialisme lainnya menekankan kebebasan dan tanggungjawab sebagai hakikat dasar manusia.
Jean Paul Sartre seorang filsuf yang lebih terkenal sebagai novelis melanjutkan inti pemikiran Kieergard dengan kejadian-kejadian riil di kehidupan sehari-hari, ketika Kieergard sibuk berkutat dalam pemahaman konsepsi eksistensialisme, Sartre menurunkan kadar teori menjadi praktik dalam kehidupan pribadinya. Seperti ketika ia berada dalam apartemen sendirian(dalam buku Being and Nothingness), ia merasakan hakikat dirinya sebagai manusia yang utuh, namun ketika pintu terketuk dan orang masuk ke dalam ruangan yang sama dengan dirinya, pandangan orang tersebut dianggap sebagai upaya penghancuran keberadaan atas dirinya. Tatapan mata orang sebagai subjek, telah membunuh Sartre (objek), sehingga ia menyebutnya Nothingness atau ketiadaan. Orang lain dianggap sebagai ancaman dalam prosesnya menemukan Being atau Dassein (Ke-Adaan) dirinya. Sartre hidup satu rumah dengan rekan pemuas birahi sekaligus sahabat pemikirannya, Simon de Beauvoir. walaupun ia telah mengenal sejak lama dan menyatukan berbagai gagasan tentang hakikat eksistensi manusia dengan Simon, mereka tidak menikah, karena menikah hanya akan menghilangkan bahkan sekali lagi membunuh kehendak bebas manusia dan mengancam eksistensi dirinya.
Yang menarik adalah pemikiran psikolog Eksistensialis terkenal Rolo May (1909-1994), ia mengembangkan filsafat eksistensialisme Kieergard dan mengubahnya menjadi suatu pemikiran jalanan yang sangat praktis. Melebihi Sartre yang masih bertele-tele dalam bahasa novel dalam menjelaskan konsep eksistensialisme, May mencoba menyelesaikan permasalahan kliennya dengan metode eksistensialisme, salah satu pengalamannya yang paling berkesan adalah kasus Philip dan Nicole, pasangan yang cukup unik. Nicole memiliki hasrat seksual yang sangat tinggi, ia sering berselingkuh dengan banyak pria, bahkan tidak segan-segan memberi tahu Philip bahwa ia sedang berselingkuh, namun tetap meyakinkan Philip ia cinta terhadapnya bukan yang lain. Kejadian ini terus berulang, sehingga Philip merasakan ada yang salah dengan dirinya, kemudian ia pergi ke May untuk berkonsultasi. Dalam kasus Philip yang sangat kompleks antara pengalaman masa lalu, dan kecemasan akan kehilangan gadis yang ia cintai, secara singkat ia telah terperangkap dan menjadi objek atas dirinya sendiri. Menurut May ia terjebak pada a-eksistensi atau kehilangan Ke-Adaan dirinya di depan pasangannya, ia tidak memiliki kuasa apapun dan bergantung pada Nicole. Eksistensialisme kemudian menjadi ancaman serius dalam kehidupan sang klien May, dan melalui terapi Eksistensialisme juga kasus Philip bisa diselesaikan, yaitu membangkitkan kesadaran ke-Adaan (being) dirinya dan melawan segala hal yang tidak ia kuasai sebelumnya, cinta, kecemasan dan harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar